3 Alasan Pentingnya RAMS Assesment untuk Produk / Sistem Persinyalan (Lokal)

level-crossing-1047319_960_720

Katakanlah anda berencana membuat sebuah sistem detektor kereta api (wheel detector) untuk sebuah palang pintu otomatis. Dari pilihan teknologi yang ada anda dapat memilih menggunakan track circuit, axle counter atau hanya bahkan hanya dengan sensor getar sederhana menggunakan piezoelectric murah yang banyak dijual di pasar-pasar komponen elektronika.

Apa yang menjadi pertimbangan anda dalam memilih teknologi-teknologi tersebut? Kemudahan instalasi-nyakah? kehandalannya (reliabilitas-nya)?, gampang membuatnya ?, atau yang penting asal jadi, murah sehingga untungnya besar apabila dijual?

Oke, misalnya anda membuat memutuskan untuk menggunakan sensor getar saja dengan pertimbangan bahwa alatnya mudah dibuat, komponennya mudah didapat. Anda mungkin mengesampingkan pilihan axle counter karena axle counter adalah produk pabrikan yang  mahal, insatalasi-nya tidak sederhana dan terlalu overkill jika hanya digunakan sebagai wheel detector. Sedangkan track circuit anda pikir produk tersebut terlalu kuno dan berkesan kurang canggih.

Well, anda mulai merumuskan desain hardware-nya, membuat PCB, pesan komponen, solder sana-sini, wiring sana-sini, buat software-nya,  pasang mekanik casing-nya dan tadaaa…singkatnya sistem detektor kereta api sudah jadi. Lalu setelah itu anda merencanakan sebuah uji coba.

Uji coba pertama pastinya akan anda lakukan di lab. Detektor yang anda buat anda trigger dengan memukul-mukul casing-nya menirukan vibrasi yang disebabkan oleh kereta api yang melintas. Hasilnya, wow…alat anda dapat menggerakkan palang pintu otomatis dan anda cukup puas dengan hasil tersebut.

Anda segera menelepon Project Manager untuk memastikan bahwa alat yang anda buat dapat segera dipasang di lapangan.

Singkat cerita wheel detector made in anda sukses terpasang dan berfungsi baik untuk beberapa hari. Namun pada hari yang ke-sembilan turun hujan lebat di sekitar sistem palang pintu otomatis rancangan anda yang membuat kepadatan tanah sekitar rel berubah.

Tiba-tiba sebuah rangkaian kereta penumpang melintasi detektor tersebut namun gagal terdeteksi karena sistem mendeteksi vibrasi yang terlalu kecil untuk digolongkan sebagai kereta yang melintas akibat kondisi tanah yang meredam getaran yang dihasilkan oleh kereta api yang melintas. Akibatnya, pintu perlintasan gagal menutup dan kereta api sukses menyeruduk sebuah bus yang kebetulan sedang melintasi level crossing tersebut….35 orang dinyatakan tewas dan 46 lainnya luka berat dan ringan.

Kalau begitu siapa yang bakal disalahkan?

Ilustrasi di atas menggambarkan bahwa diperlukannya sebuah teknis baku tertentu untuk dijadikan pedoman. Pedoman itu adalah EN50126, EN50128 dan EN50129. Untuk memastikan bahwa produk atau sistem yang delivered sesuai dengan requirements dari Infrastructure Owner dan prosesnya mengikuti standard yang telah disepakati maka perlu dilakukan assesment oleh Independent Safety Assesor (ISA). Mengapa Reliability, Availability, Maintainability & Safety (RAMS) assesment penting dilakukan untuk Safety Critical System dan Safety Related Product? berikut alasan-alasannya.

Alasan #1 : Hampir 100% Safety Engineer khawatir produk atau sistem yang delivered dapat mengakibatkan resiko fatal dan tak ingin terjerat hukum karenanya.

Hal yang paling mudah dilakukan apabila terjadi kecelakaan catastropic seperti pada ilustrasi di atas adalah menyalahkan sang pembuat. Pihak-pihak yang terkait akan berlepas tangan (atau cuci tangan) dan akan mudah menuduh semuanya adalah kesalahan kontraktor khususnya para Safety Engineer. Padahal para Engineer adalah hanya pelaksana teknis yang biasanya malah mendapatkan tekanan yang kuat dari para pembuat keputusan. RAMS assesment menyebar tanggung jawab safety pada seluruh stake holder yaitu : Kontraktor, Operator, Railway Authority dan ISA sendiri.

Alasan #2 : Legalitas dan kehandalan sebuah Safety System dapat lebih terjamin dan terdokumentasikan.

Legalitas (dan kehandalan) Safety Product merupakan kesepakatan kolektif beberapa institusi, bukan merupakan pemikiran perorangan. Keselamatan transportasi publik merupakan hal yang mutlak (Safety Organization, EN50129).

Untuk sampai pada approval dan acceptance dari ISA setiap proses pembangunan sistem atau produk harus diiringi dengan dokumentasi sesuai prasyarat standard dan dilakukan verifikasi pada setiap fase-nya. Proses pada setiap fase hanya boleh beranjak menuju fase berikutnya apabila telah dilakukan approval pada fase tersebut. Proses validasi-pun akan dilakukan pada penghujung proses untuk mencocokan sistem yang delivered dengan requirements awal.

Alasan #3 : Produk-produk persinyalan kereta api buatan luar negeri yang telah tersertifikasi SIL-4 menyerang pangsa pasar Indonesia dengan menitikberatkan pada isu safety dan sertifikasi SIL-4.

Kemandirian teknologi persinyalan kereta api dalam negeri adalah sebuah keharusan karena secara tidak langsung mendukung pada kedaulatan negara. Produk persinyalan seperti interlocking, axle counter, point machine dan lain-lain setiap tahunnya membanjiri Indonesia. Apabila terjadi kerusakan pada sebuah alat persinyalan buatan asing, maka kita harus mendatangkan tenaga ahli dari negara produsen yang tentu saja tidak gratis. Bahkan kita harus membayar tenaga asing tersebut bahkan sebelum ia naik kereta api di negaranya. Ketika sampai di sini belum tentu pula dapat menyelesaikan masalahnya.

Banyak orang berfikir RAMS assesment adalah sebuah kesia-siaan. Selain membutuhkan waktu, effort, biaya yang besar banyak yang berkata bahwa sertifikasi sebuah Safety System adalah taktik produsen untuk mem-blok produk kompetitor. Well, mungkin bisa saja hal itu benar tapi manfaat dari proses RAMS assesment itu sendiri memang tidak terelakkan untuk menghasilkan sistem atau produk yang joss…!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *