Indonesia IoT Challenge Vs Realita Tantangan Industrialisasi IoT yang Masih Terjal Menanjak

IMG-20160612-WA0009

Jika anda yang berpendapat bahwa revolusi gelombang baru teknologi yang dinamakan Internet of Things (IoT) belum hadir di Indonesia anda mungkin tidak seratus persen salah, namun tidak seratus persen juga benar.

Dalam hajatan yang bertajuk Indonesia IoT Expo yang dilaksanakan pada tanggal 11-12 Juni 2016 di Atrium Bandung Electronic Center silam setidaknya membuktikan bahwa awarness dan antusias para maker Indonesia dalam menyambut era baru tersebut patut diacungi jempol.

Penulis sendiri kali ini ‘ditodong’ menjadi salah satu Dewan Juri dan menjadi salah seorang speaker pada acara Talk Show mengenai perkembangan IoT di Indonesia (jadi foto di atas bukan sedang menjadi anggota Boys Band 😛 )

Sepuluh peserta Indonesia IoT Challenge ditambah dengan beberapa praktisi IoT dari komunitas IoT Bandung, Bogor dan Jakarta. Juara Indonesia IoT Challenge pun diumumkan sudah dengan juara I : Toppay, Juara 2 : Feeder, dan juara 3 : Kyuri Plant dari Tanibox.

Untuk dapat dijadikan produk IoT siap pakai memang masih diperlukan beberapa polesan dan memang tujuan Challenge ini bukanlah kesana. Bagaikan bayi yang baru merangkak perkembangan IoT di Indonesia memang harus diberi suplemen berupa Challenges agar para maker dapat tumbuh menjadi industri. Tahapan menjadi industri itulah yang akan menjadi milestone selanjutnya yang harus dikembangkan.

Ada beberapa hal yang perlu dilakukan apabila hasil Challenge ini agar dapat berkembang menjadi sebuah produk yang dapat bersaing di pasaran (yang sebenarnya hal ini adalah tantangan secara keseluruhan perkembangan IoT di Indonesia (pembahasan selengkapnya mengenai tantangan perkembangan IoT kedepan akan dibahas pada artikel-artikel yang lainnya). Sebagian dari peserta mungkin sudah memikirkannya, namun supaya lebih jelas sebaiknya mari kita bahas satu persatu.

#1 Selalu memposisikan bahwa kita adalah end user dari produk yang kita buat

Semua aspek kehidupan dapat di- IoT -kan. Anda pasti setuju dengan statement ini. Namun pernahkan anda berfikir bahwa user benar-benar membutuhkan produk yang anda buat? Siapa yang akan berani merelakan beberapa ratus ribu atau bahkan jutaan rupiah untuk mendapatkan sebuah perangkat pengontrol lampu jarak jauh atau sebuah ember yang dapat memberitahukan kepada user ketika airnya penuh?

Jika anda yakin dan keukeuh bahwa ada celah market-nya, buatlah dahulu analisa bisnisnya. Buatlah produk yang anda ciptakan spesial sehingga anda yakin bahwa user akan tertarik membeli produk anda. Jangan sekali-kali membuat produk yang hanya berdasarkan keinginan anda karena user yang akan menggunakannya, bukan anda.

#2 Pertimbangkan aspek reliabilitas (reliability)

Katakanlah anda berhasil mendapatkan kontrak untuk menjual beberapa ratus produk anda lalu anda install di lapangan. Apabila produk IoT yang anda jual hanya dibangun dari sebuah development board, kabel jumper dan beberapa shield module dijamin produk anda hanya akan menjadi sebuah mimpi buruk yang tak pernah berhenti karena user akan seringkali me-reject produk anda karena sering bermasalah.

Solusi yang harus anda lakukan adalah buatlah hardware khusus buatan anda sendiri. Pilihlah kontroler dan komponen yang memadai yang tentu saja mahal tidaknya disesuaikan target market yang anda incar. Apabila anda tidak mempunyai resources untuk melakukan hal itu carilah partner atau outsource yang dapat diandalkan. Lakukan juga functional & enviromental test yang memadai untuk menjamin kualitas produk.

#3 Produk harus mudah dikonfigurasi (user friendly)

Anda harus ingat bahwa end user anda pada umumnya adalah bukan hanya seorang maker, developer atau engineer. Anda dapat membayangkan bahwa user adalah seorang wanita paruh baya yang bernama Nyonya Dedeh yang sama sekali tidak mengerti bagaimana menyalakan sebuah komputer apalagi harus mem-program-nya. Buatlah sebuah “Thing” yang mudah di-setup hanya dengan 1,2 atau 3 langkah saja atau bahkan tidak perlu di-setup sama sekali hanya tinggal “Plug and Play” bukan “Plug and Pray…”

#4 Yakinkan Supply Chain dalam genggaman anda demi Product Continuity

Mungkin anda akan baik-baik saja ketika user hanya membeli beberapa produk saja dari anda dalam jangka waktu yang tidak terlalu ketat. Namun bagaimana jadinya jika user memborong produk anda dalam orde ratusan bahkan ribuan dalam kisaran waktu yang relatif sempit dan berturut-turut? Tentu saja anda tidak ingin mengecewakan mereka dengan mengatakan bahwa “Maaf, stok komponen sedang habis, perlu waktu beberapa bulan untuk pengadaannya…”

Apabila anda menggunakan rekanan outsource pastikan bahwa rekanan anda adalah rekanan yang terpercaya dan dapat menjamin ketersediaan barang baku untuk produk anda.

#5 Selalu menggunakan IoT Platform yang dapat diandalkan

Penggunaan protokol data http, MQTT atau yang lainnya dapat digunakan asalkan sesuai dengan kebutuhan dan dapat di-cover oleh Cloud yang bertindak sebagai IoT Platform. IoT platform yang dapat diandalkan bukan hanya sekedar gratis namun harus dapat menjamin keberlangsungan transaksi data selama “Things” terkoneksi dengan Cloud itu sendiri.

Tidak lucu apabila anda di-komplain user gara-gara IoT Platform anda sering down dan anda tidak bisa bertindak apa-apa. Gunakan IoT Platform komersial apabila anda ingin serius berbisnis dengan produk IoT anda, atau mungkin anda dapat membangun IoT Platform sendiri sehingga anda dapat leluasa mengaturnya.

Demikian beberapa point penting yang dapat dipertimbangkan untuk meng-industrikan produk-produk IoT walaupun sebenarnya masih banyak tantangan-tantangan lainnya yang akan dibahas pada kesempatan mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *