Trilogi EN5012x Standard dan Segiempat Sinergi Stakeholder untuk Perkeretaapian Indonesia yang Lebih Baik

ENHierarki

Anda mungkin sepakat bahwa kereta api adalah sebuah moda transportasi massal yang sangat efektif dan nyaman. Diluar efektivitas dan kenyaman tersebut hal yang terpenting adalah bahwa kereta api adalah moda transportasi yang dianggap mempunyai tingkat safety yang tinggi. Hal tersebut disebabkan pergerakan kereta api adalah sebuah perjalanan yang terpandu, terkontrol dan terencana.

Untuk dapat memastikan bahwa produk atau sistem diakui cukup aman sebuah produk/sistem harus dapat memenuhi prasyarat yang telah ditetapkan pada sebuah standar tertentu. Standar tersebut harus meliputi standar kualitas produk, manajemen dan safety.

Salah satu mahzab standar keselamatan kereta api yang banyak dianut di dunia adalah EN5012x standard series yang banyak digunakan di kawasan Eropa dan beberapa negara lainnya di dunia. EN (singkatan dari Europaische Norm (standar Eropa)) adalah standar yang dikeluarkan oleh Cenelec (Comite European de Normalisation ELECtrotechnique), yaitu sebuah komite Eropa untuk standarisasi Elektroteknikal yang mempunyai sekretariat di Brussel, Belgia.

Anggota Cenelec terdiri dari komite nasional elektroteknikal negara-negera di Eropa yaitu : Austria, Belgia, Republik Czech, Denmark, Finlandia, Jerman, Yunani, Islandia, Italia, Luxembourg, Malta, Belanda, Norwegia, Portugal, Spanyol, Swedia, Swiss, dan Inggris.

EN standard diturunkan dari IEC61508 yang merupakan generic standard untuk peralatan elektronika programmable yang digunakan pada industri.

StandardHierarchy

EN standard untuk Railway terdiri dari tiga set standar utama yang dapat digunakan sebagai acuan yaitu :

EN50126 (tentang Safety Management System pada Perkeretaapian [The specification and demonstration of Reliability, Availability, Maintainability and Safety (RAMS)].

EN50128 (mengenai Safety Software Management [Railway Application – Communication, Signalling and Processing Systems-Software for railway control and protection systems].

EN50129 tentang pembuktian safety product/system pada sebuah Safey Case [Railway Applciation – Communication, Signalling and Processing Systems – Safety related electronic systems for signalling].

Walaupun masih ada standar yang lainnya seperti EN50159 yang mengatur tentang komunikasi [Safety-Related communication systems] dan yang lainnya namun secara garis besar yang menjadi acuan adalah tiga standar di atas.

Indonesia, yang notabene mempunyai warisan teknologi perkeretaapian dari pemerintah kolonial Belanda banyak mengadopsi sistem persinyalan Eropa khususnya untuk sistem persinyalan konvensional. Namun awarness mengenai pemahaman standarisasi dan manajemen safety untuk produk / sistem persinyalan belum dipahami secara keseluruhan.

Isu safety baru hanya bergulir pada tingkatan pernyataan terminologi lisan bahwa produk / sistem perkeretaapian haruslah produk / sistem SIL-4 yang dianggap sebagai pencapaian akhir safety level tertinggi. Seolah-olah produk / sistem perkeretaapian yang mengantongi sertifikat SIL-4 adalah produk ultimate yang steril dan akan safety serta available selamanya walaupun tanpa ada effort lain yang dilakukan.

Padahal berbicara mengenai safety dalam perkeretaapian adalah berbicara mengenai culture atau budaya kerja dari stakeholder perkeretaapian. Ada empat stakeholder utama dalam perkeretaapian yang keempatnya seharusnya membentuk kerjasama / sinergi. Masing-masing stakeholder tersebut mempunyai tanggung jawab terbentuknya sebuah safety ecosystem yang mempunyai andil dalam kualitas pelayanan dan keselamatan perkeretaapian.

StakeHolderSynergiSquare
Bentuk nyata dari tanggung jawab masing-masing stakeholder dapat berupa sebuah SOP manajemen, peraturan-peraturan atau undang-undang, dukungan sumber daya keuangan, dokumentasi yang mengacu standar atau sebuah rilis produk / sistem perkeretaapian beserta dokumentasinya dan lain-lain.

Stakeholder #1 Regulator

Regulator adalah penentu kebijakan dan maju tidaknya sebuah perkeretaapian nasional sebuah negara. Regulator biasanya ditunjuk oleh negara atau mewakili negara (pemerintah) melalui sebuah instansi kementerian yang menangani permasalahan transportasi. Sesuai dengan namanya Regulator bertugas mengeluarkan peraturan, perundang-undangan dan tata cara pengelolaan perkeretaapian.

Dalam kaitannya dengan EN standard, Regulator seharusnya berperan pada penyusunan Safety Requirement pada Safety Management. Pada fase ini Regulator harus mampu membuat sebuah Konsep dan System Definition yang alasan pelaksanaanya diperoleh berdasarkan kebutuhan infrastruktur lapangan atau berdasarkan amanat perencanaan pembangunan perkeretaapian. Karena pada dasarnya tidak mungkin sebuah produk / sistem dibuat jika tidak ada permintaan (requirement) terlebih dahulu.

Pada gilirannya Regulator-pun harus mampu melakukan analisis kualitatif dan kuantitatif berdasarkan data-data statistik kecelakaan yang dimiliki oleh Regulator sendiri, Hazard Identification dan Safety Integrity Target untuk menentukan SIL dari system baik untuk Random Failure maupun Systematic Failure pada produk/sistem yang akan dibangun untuk dituangkan pada sebuah Safety Requirement.

Secara singkat dapat dikatakan Regulator mempunyai tanggung jawab untuk membuat Safety Requirement sesuai dengan standar. Oleh karena itu pemahaman mengenai EN standard dan langkah-langkah kerja Safety Management mutlak harus dimiliki.

Regulator secara bersamaan dapat bertindak pula sebagai infrastructure owner yang berwenang mengendalikan dan mengawasi proses pembangunan sebuah produk atau sistem.

Stakeholder #2 Contractor / Supplier

Tugas dari kontraktor adalah menjawab dan mengerjakan Safety Requirement dari Regulator dengan membangun sebuah produk atau sistem perkeretaapian yang sesuai. Untuk dapat membuat sebuah produk / sistem yang handal dan safety, indutri yang bergerak dalam bidang perkeretaapian harus dapat mamahami trilogi standar EN5012x ini. Setiap langkah pada proses desain sampai dengan proses commisioning (V-Life Cycle Process) dilakukan dengan runtut disertai verifikasi dan validasi termasuk penyerahan Safety Case Document

Stakeholder #3 Operator

Sebagai pihak yang paling bertanggung jawab terhadap keselamatan operasional perjalanan kereta api harian operator ikut andil untuk mengawal peralatan / sistem sarana dan prasarana perkeretaapian agar tetap dalam performa optimum dalam kerangka Safety Integrity Level –nya. Hal yang dilakukan oleh operator adalah melakukan manajemen operasional dan maintenance agar RAMS tetap terjaga. Karena walaupun sebuah sistem telah tersertifikasi SIL-4 sebagai contoh sebuah Automatic Train Protection (ATP) yang seharusnya akan melakukan emergency brake apabila Kereta Api melanggar sinyal merah, namun apabila interface ATP dengan sistem pneumatic pengereman kereta tidak terawat maka tumburan kereta api tetap akan terjadi.

Stakeholder #4 Safety Assesor

Untuk sistem dengan SIL4 dan memiliki kompleksitas tinggi seperti sistem Interlocking proses verifikasi dan validasi harus dilakukan oleh badan independen internasional berlisensi yang bertindak sebagai Independent Safety Assesor (ISA) seperti TUV, Lyold, Bureau Veritas dan lain-lain. Kendala yang utama adalah bahwa harus disadari cost dari Safety Assesment tidaklah murah. Sebagai alternatif dapat dipula dibangun kompetensi assesor nasional dengan catatan harus mendapat dukungan penuh dari pemerintah dan sinergi dari setiap stakeholder perkeretaapian nasional untuk membangun kompetensinya masing-masing.

Referensi :

EN5012x standard series.

Fuctional Safety (Second Edition), David J Smith & Kenneth G L Simpson, Publisher: Elsevier Butterworth-Heinemann, 2004.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *