Risk Control, Strategi Hakiki Meningkatkan Railway Safety

derailment1Pagi-pagi ini saya akan memulai hari dengan mendongeng,…ya mendongeng tentang sebuah skenario kejadian kecelakaan (lagi :p) seperti pada artikel mengenai Pentingnya RAMS Assesment untuk Produk/Sistem Persinyalan (Lokal). Sambil menikmati roti gandum yang berselai madu…mari kita mulai dongengannya…

Alkisah pada suatu ketika sebuah operator nasional kereta api sebuah negara mengoperasikan seluruh koridor lintas utama jalur antara kota di negara tersebut dan sebuah otoritas keamanan transportasi yang bertindak sebagai investigator.

Otoritas keamanan transportasi hanya bekerja secara reaktif apabila terjadi permasalahan atau kecelakaan pada kereta api. Secara mudahnya pihak otoritas akan mencari penyebab terjadinya kecelakaan tersebut. Mungkin ada beberapa pihak dianggap paling bertanggung jawab yang akan di-investigasi, di-interogasi, dan setelah itu mungkin beberapa orang akan diminta pertanggungjawaban di pengadilan.

Orang-orang yang dianggap bersalah akan diproses secara hukum dan mungkin beberapa hari kedepan otoritas keamanan akan menggelar konferensi pers dan mengumumkan kronologis kejadiannya di media massa lengkap dengan daftar nama orang-orang yang dianggap lalai dalam kejadian tersebut. Dan dianggap selesailah tugas otoritas keamanan tersebut…that’s all.

Mungkin kejadian kecelakaan yang diceritakan pada awal artikel ini tadi ‘hanyalah’ sebuah pengereman mendadak yang mengakibatkan sebuah anjlokan yang mengakibatkan 1 orang tewas karena tergencet sambungan gerbong (mungkin korban ketika kecelakaan terjadi sedang berdiri pada sambungan gerbong sambil merokok), 3 orang terluka parah dan 5 orang luka-luka ringan.

Penyebab pengereman mendadak sendiri adalah kesalahan operator persinyalan yang melakukan reset pada axle counter karena gangguan track yang mengakibatkan interlocking tidak dapat melakukan set-route. Operator menganggap gangguan track tersebut hal yang biasa terjadi, sehingga melakukan reset pada axle couter tanpa melihat bahwa pada saat itu memang ada gerbong tertinggal yang tengah menduduki track section tersebut.

Set-route dapat dilakukan oleh interlocking sehingga kereta api bisa masuk stasiun. Untungnya jalur masuk stasiun dari sinyal masuk bukan merupakan kelokan (curve) sehingga masinis masih dapat melihat gerbong yang tertinggal dan masih dapat melakukan pengereman mendadak dari kecepatan tinggi sehingga tumburan tidak terjadi. Namun anjlokan pada gerbong kereta tidak dapat dihindari…

Kasus kecelakaan tersebut mungkin telah dianggap selesai setelah konferensi pers yang dilakukan oleh otoritas keamanan. Waktu terus bergulir, kejadian kecelakaan tersebut terlupakan. Sampai pada satu tahun berikutnya terjadi kejadian kecelakaan lagi pada stasiun yang sama dan pada track section yang sama. Namun kali ini kecelakaannya adalah tumburan antar kereta api dengan korban jiwa dan luka-luka yang lebih masif.

Mungkin operator akan menyanyikan lagu seperti yang dibawakan neng Britney Spears : “Oops, We did it again…!” (dengan I digantikan We, tentu saja :P).

Safety Management yang dilakukan oleh otoritas keamanan transportasi pada ilustrasi di atas adalah Event Based Safety Management yang akan bereaksi ketika terjadi kecelakaan tanpa adanya langkah-langkah preventif yang dapat menganalisis secara mendalam penyebab kecelakaan yang pernah terjadi dan melakukan langkah-langkah mitigasi yang sesuai dan terprediksikan sehingga diharapkan kejadian serupa yang diakibatkan oleh hazard yang sama tidak akan terulang kembali.

EventBasedSafetyManagement

Pada sebuah ekosistem perkeretaapian yang mungkin tanpa disadari melakukan Event Based Safety Management biasanya kejadian kecelakaan yang sama dapat terjadi berulang-ulang karena upaya preventif praktis tidak dilakukan. Agar dapat meminimalisir kejadian kecelakaan dan tingkat keparahannya harus dilakukan Risk Based Safety Management System.

Risk Based Safety Management System menekankan upaya preventif untuk menurunkan probabilitas kejadian kecelakaan dengan melakukan penurunan tingkat resiko (risk reduction) melalui peningkatan kualitas produk, sistem dan manajemen. Seluruh kemungkinan kecelakaan diprediksikan pada hazard log berikut dengan langkah-langkah mitigasinya.

RiskBasedSafetyManagement

Pada EN50126 standard Chapter 4 “Railway RAMS” dinyatakan bahwa Risk Evaluation harus dilakukan. Risk merupakan kombinasi dari frekuensi kejadian dan konsekuensi tingkat keparahan apabila kecelakaan terjadi.

”4.6.1 Risk concept:

The concept of risk is the combination of two elements:
the probability of occurrence of an event or combination of events leading to a hazard, or
– the frequency of such occurrences;
– the consequence of the hazard.

4.6.3.2 Risk evaluation shall be performed by combining the frequency of occurrence of a hazardous event with the severity of its consequence to establish the level of risk generated by the hazardous event.

4.6.3.3 Risk acceptance should be based on a generally accepted principle.”

Risk acceptance dapat dilakukan misalnya menggunakan metode ALARP (As Low As Reasonable Practicable). Tentang metode ALARP ini akan dijelaskan  khusus di blog ini pada kesempatan yang akan datang.

Selain itu pada bagian phase 1, ”Concept” EN50126 dinyatakan:

“6.1.3.4 Requirement 4 of this phase shall be to obtain information about:
– previous RAMS requirements and past RAMS performance of similar and/or related systems.
– identified sources of hazards to RAMS performance.
– current Railway Authority Safety Policy and Targets.
– safety legislation.”

Dengan demikian dibutuhkan data-data dan dokumen statistik dan kewenangan dari Regulator agar Risk Reduction dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan dari kondisi perkeretaapian setempat sehingga Risk Reduction yang telah dapat diterima menjadi sebuah Safety Target dan menjadi dasar sebuah Safety Requirement.

Bagaimana apabila risk management level di-patok rendah? Tentu saja kita kemungkinan masih akan mengalami beberapa kejadian kecil yang masih dapat ditoleransi. Sebaliknya, apabila risk management level di-patok terlalu tinggi akan mengakibatkan operational cost menjadi tinggi dan kurang memiliki daya tawar yang menarik.

Referensi :

EN50126 standard

Troels Winther, Quick Guide to Safety Management Based on EN50126

2 thoughts on “Risk Control, Strategi Hakiki Meningkatkan Railway Safety”

  1. Kira-kira seperti itu mas 🙂 di Indonesia belum diterapkan seluruhnya. Untuk teknologi persinyalan prinsip-prinsip safety dalam beberapa hal sudah digunakan, namun ‘awarness’ mengenai RAMS management masih dipahami secara parsial dan belum diterapkan. Blog ini salah satunya adalah usaha agar pemahaman mengenai Railway Safety Management yang standar dapat disepakati, dipahami dan dilaksanakan oleh seluruh ekosistem perkeretaapian di Indonesia agar dapat bersinergi.

    Terima kasih atas kunjungannya, salam kenal kembali…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *