Dahsyatnya Bahaya Overspeed pada Kecelakaan KA Komuter di Stasiun Hoboken, New Jersey, AS

a-derailed-new-jersey-transit-train-is-seen-under-a-collapsed-roof-after-it-derailed-and-crashed-intSiapa yang tidak kenal dengan New York ?. Sebagai salah satu kota metropolitan tersibuk di dunia, lalu-lintas kawasan New York disokong oleh jaringan kereta api komuter yang mempunyai sejarah panjang. Perkembangan kereta api dilakukan secara bertahap sehingga train-set yang beroperasi pada setiap line-pun memiliki level teknologi yang berbeda-beda.

Pada saat rush hour jumlah penumpang akan memenuhi platform-platform stasiun untuk dapat diangkut menuju tempat kerja masing-masing.  Apabila terjadi kecelakaan khususnya yang terjadi pada kawasan stasiun, efek yang ditimbulkan tentu saja akan cukup masif.

Hal itulah yang terjadi pada hari Kamis 29 September 2016 yang lalu. Sebuah kereta komuter (NJ Transit Commuter) kereta api #1614 yang biasa melayani jalur Pascack Valley Line yang berangkat dari stasiun Spring Valley, New York pada pukul 07:23 pagi waktu setempat yang rencananya akan berhenti di stasiun terakhir (stasiun Hoboken, New Jersey) mengalami kecelakaan di stasiun / terminal Hoboken , New Jersey pada pukul 08:45 dengan menabrak  pembatas sepur dan menerobos masuk ke stasiun tempat berkumpulnya penumpang  dan berhenti tepat pada dinding sebelum ruang tunggu stasiun.

Kecelakaan tersebut mengakibatkan  seorang  pengacara yang juga merupakan ibu satu orang anak berumur 34 tahun yang  bernama Fabiola Bittar de Kroon tewas dan 114 lainnya luka-luka.

Seorang saksi mata mengatakan bahwa ketika kereta api #1614 memasuki stasiun, kereta tersebut tidak melambat seperti selayaknya kereta yang akan memasuki stasiun yang merupakan stasiun ujung (terakhir).

Stasiun Hoboken diambil dari Google Earth yang merupakan stasiun ujung di tepi sungai Hudson
Stasiun Hoboken diambil dari Google Earth yang merupakan stasiun ujung di tepi sungai Hudson

Badan Nasional Keselamatan Transportasi AS (NTSB) menyelidiki kecelakaan ini bersama-sama dengan Federal Railroad Administration (FRA). Sang masinis Thomas Gallagher (48 tahun) walaupun sedang terluka parah namun dapat bekerjasama untuk diwawancarai oleh investigator. Gallagher menyatakan bahwa dirinya tidak dapat mengingat kejadian tersebut dan tidak menyadari adanya masalah mekanis sesaat sebelum terjadinya kecelakaan.

Hari berikutnya setelah kecelakaan, NTSB merilis sebuah temuan berupa event recorder dan video recorder. Berdasarkan laporannya, 38 detik sebelum kecelakaan, masinis menambah kecepatan dari 8 mil per jam menjadi 21 mil per jam yang mana lebih dari dua kali kecepatan yang disarankan ketika kereta api memasuki stasiun yakni 10 mil per jam. Dari laporan tersebut juga terlihat bahwa masinis berusaha melakukan pengereman darurat kurang dari satu detik sebelum terjadinya kecelakaan.

Kereta api yang mengalami kecelakaan tersebut dilaporkan tidak dilengkapi oleh sistem pengereman otomatis menggunakan Positive Train Control (PTC). Sistem PTC adalah sebuah sistem semacam Automatic Train Protection (ATP) yang merupakan sistem yang menjadi prasyarat fungsional keselamatan di Amerika Serikat untuk monitoring dan kontrol pergerakan kereta api dalam rangka usaha untuk meningkatkan keselamatan perjalanan kereta api.

Konsep utama dari Positive Train Control (PTC)  –seperti yang didefinisikan oleh North American Class I freight railroads— adalah bahwa kereta api menerima informasi mengenai lokasi dan tempat yang diizinkan untuk berjalan secara aman yang disebut pula dengan movement authorities. Peralatan di dalam kereta api mengatur hal ini untuk menjaga kereta api dari pergerakan yang tidak aman. PTC system dapat bekerja baik pada dark territory atau signaled territory.

Sebagai informasi mulai tahun 1990 NTSB menjelaskan bahwa PTC sebagai salah satu daftar yang paling diinginkan dalam peningkatan keselamatan transportasi mengingat bahwa pada saat itu kecelakaan yang terjadi banyak yang disebabkan oleh human error.

Pada bulan September 2008 Kongres menetapkan rancangan hukum baru keselamatan perkeretaapian yakni menentukan bahwa paling lambat 15 Desember 2015 teknologi PTC harus diimplementasikan di seluruh jaringan kereta api di AS dan pada tanggal 16 Oktober 2008 ditandatangani oleh presiden George W. Bush dalam sebuah dokumen berjumlah 315 halaman yang disebut sebagai Rail Safety Improvement Act of 2008.

Namun dalam aplikasinya baru sebagian PTC yang terpasang dan tidak dapat memenuhi deadline tahun 2015 dengan alasan faktor pendanaan yang tidak disediakan oleh kongres, waktu yang tidak mencukupi untuk desain, pengujian, interoperability , teknologi manufaktur dan kebutuhan untuk mendapatkan spektrum radio pada seluruh jaringan kereta api yang harus melibatkan perizinan dari FCC dan permasalahan lainnya.

Signal Pass At Danger (SPAD) versus Overspeed

Pada hakikatnya PTC adalah bagian dari Automatic Train Protection (ATP) yang berfungsi untuk mengatur moving authorities dari kereta api agar pergerakannya dapat berjalan secara aman dan berhenti pada area yang secara sistem dianggap berbahaya. Dengan ATP, Signal Pass At Danger (SPAD) atau pelanggaran sinyal dapat dihindari.

Namun ada hal lain yang tidak kalah penting dari fungsi ATP selain menjadi kereta api dari SPAD yakni proteksi terhadap overspeed atau kecepatan aktual melebihi dari kecepatan yang diizinkan. Dalam kasus kejadian di stasiun Hoboken, New Jersey, ternyata overspeed-pun dapat terjadi walaupun kereta api telah melewati sinyal masuk (Home Signal) sehingga kereta api tidak berhenti pada batas maksimal luncurannya.

Hal ini harus menjadi perhatian khusus bagi para desainer ATP dan pihak otoritas dalam menentukan spesifikasi dan requirements ATP.

Berikut rekaman video yang diambil dari CCTV stasiun ketika terjadinya kecelakaan :

Referensi :

www.wikipedia.org
New York Post (www.nypost.com)
New York Times (www.nytimes.com)
www.youtube.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *