IoT, Internet of Trains (Bagian 1)

iotrainIstilah Internet of Things (IoT) –yang menjadi salah satu concern Blog tersayang ini — adalah sebuah konsep untuk memperluas manfaat dari konektivitas internet yang tersambung secara terus-menerus dengan menghubungkannya dengan benda-beda di dunia nyata. Aplikasi Internet of Things mencakup seluruh aspek kehidupan manusia secara luas.

Hari ini kita dapat memperoleh begitu berlimpahnya data yang dapat kita akses dari internet. Namun data-data tersebut adalah data yang memerlukan intervensi manusia untuk meng-update-nya.Dalam konsep IoT peralatan-peralatan yang terkoneksi dengan internet-lah yang dapat memberikan update data dan sekaligus dapat pula dikontrol melalui jalur internet secara remote.

Praktisnya, semua peralatan termasuk didalamnya peralatan rumah tangga, sistem transportasi, alat-alat kesehatan, instrumentasi industri, jam tangan bahkan mungkin pakaian kita akan memiliki IP address dan terkoneksi dengan internet.

Untuk apa?

Harapan positif dari perkembangan Internet of Things adalah agar tata kehidupan manusia akan menjadi lebih mudah, lebih nyaman, lebih aman, lebih teratur, lebih sehat dan seabrek hal-hal yang baik lainnya.

Lalu apa hubungannya dengan perkeretaapian?

Well, sambil menikmati minuman hangat dalam hujan yang senantiasa ‘keukeuh’ tidak berhenti ini kita akan membahas mengenai korelasi antara Internet of Things dengan Perkeretaapian.

Sebelum bercerita lebih jauh, saya mau berpesan bahwa artikel ini adalah gagasan umum mengenai aplikasi Internet of Things dalam perkeretaapian yang mudah-mudahan dapat menjadi inspirasi dan mencerahkan…

Begini mas….,bagi para pelaku teknologi Industri, sebenarnya pekerjaan mengoneksikan sebuah mesin dengan mesin lainnya dalam sebuah jaringan adalah hal biasa yang dikerjakan sejak dahulu dengan istilah Machine to Machine (M2M) Communication. Para control engineer dari zaman baheula berusaha agar alat-alat dapat saling ‘berbicara’ sehingga pekerjaan yang dilakukan oleh alat-alat yang telah dilengkapi embedded controller dapat sinkron dari satu mesin ke mesin lainnya sehingga membentuk sebuah siklus yang terintegrasi.

Protokol komunikasi yang digunakan pun cukup beragam mulai dari komunikasi serial sederhana melalui jalur RS-485 atau RS-422 seperti modbus, profibus, jalur CAN-bus, sampai dengan adopsi penggunaan jalur Ethernet seperti modbus TCP, EtherCat, ProfiNet, SafeEthernet dan lain-lain. Satu kesamaan dari protokol-protokol ini adalah bahwa seluruh peralatan terkoneksi hanya dalam sebuah lingkungan tertutup tertentu. Sehingga untuk dapat memonitor bahwa sistem bekerja dengan baik dan untuk melakukan intervensi kontrol dari manusia digunakan sebuah sistem yang dinamakan SCADA (Supervisory Control And Data Acquisition) oleh personal yang mempunyai otoritas melalui sebuah aplikasi software yang dinamakan Human to Machine Interface (HMI).

Nah…, pada perkembangannya seiring dengan perkembangan kualitas koneksi internet dengan segala kemudahannya menjadikan kebutuhan monitoring dan controling instrumen secara remote menjadi hal yang sangat memungkinkan. Sebagai tambahan perkembangan embedded system yang modular dengan reliabilitas yang cukup baik menjadikan gelombang Internet of Things semakin tak terbendung . Pada gilirannya komunikasi antar device (M2M) menjadi fitur dasar yang akan lazim pada semua alat yang terkait dengan manusia sehari-hari bukan hanya di dunia industri saja.

Secara prinsip, pada Internet of Things semua peralatan dapat saling berkomunikasi melalui perantara sebuah IoT platform (Cloud) atau Broker baik secara langsung maupun tidak langsung (melalui gateway). Akibatnya, secara teoritis koneksi antar device tidak terbatasi oleh ruang dan waktu (anytime, anywhere, connected).

Perkembangan teknologi instrumentasi persinyalan dan telekomunikasi pada perkeretaapian pada masa kini mengerucut pada tahapan digitalisasi yang memungkinkan semua peralatan yang terkait dengan pengaturan kereta api menjadi IoT enable. Teknik sensor yang merupakan basic dari Internet of Things sudah lazim digunakan dalam perkeretaapian.

Track Circuit atau axle counter biasa digunakan untuk track detection pada sistem fixed block. Lamp proving digunakan sebagai informasi berfungsi atau tidaknya sistem sinyal cahaya. Kontak jari pada point machine memberitahukan tepat atau tidaknya posisi wessel. Semua sistem-sistem pendeteksian tersebut dengan mudah dapat dikumpulkan dan sebenarnya memang telah terkumpul dalam data logger sistem interlocking yang berupa PC yang tentu saja sudah IoT enable.

iotrainintel

Sistem CTC (Centralized Train Control) /CTS (Centralized Train Supervisory) adalah sistem yang digunakan dalam persinyalan kereta api untuk mengontrol peralatan persinyalan / monitoring pergerakan kereta api dalam sebuah lintas koridor yang cukup luas yang terdiri dari beberapa stasiun. CTC/CTS adalah SCADA dalam cakupan sistem persinyalan kereta api yang selama ini jalur komunikasinya menggunakan jalur privat sepanjang rel seperti fiber optic.

Sistem CTC/CTS terutama CTS sebenarnya dapat mengadopsi Internet of Things yang dapat digunakan untuk area yang tidak terjangkau jalur komunikasi optik sehingga infrastruktur nya pun lebih ekonomis. Informasi yang terkumpul selain dapat dipantau sebagai parameter keamanan (safety) pergerakan kereta api dapat pula diolah dan digunakan sebagai bahan optimasi manajemen operasi (fleet management system) yang dapat meningkatkan revenue untuk operator kereta api.

Terlebih lagi apabila kita berbicara mengenai transportasi berbasis rel untuk perkotaan baik MRT (Mass Rapid Transit), LRT (Light Rapid Transit) ataupun yang lainnya sistem otomasi yang terkait selain persinyalan dan telekomunikasi juga terkait dengan Security, Passenger Information System, Schedulling, Ticketing, Natural Disaster Warning System, Fire Alarm, Maintenance, Manajemen Operasi dan lain-lain yang semuanya dapat terintegrasi dengan sensor-sensor IoT beserta perangkat lunaknya. Kenyamanan dan keamanan pengguna jasa trasportasi pun dapat bertambah dengan informasi-informasi umum yang dapat diakses melalui smartphone mereka.

Sekian dulu untuk artikel Internet of Trains Bagian 1 ini mas…, mbak….

Next…, kita bahas apa saja yang perlu diperhatikan untuk dapat mengimplementasikan IoT menjadi Internet of Trains.

Referensi :

www.wikipedia.org
www.eurotech.com
Intel

1 thought on “IoT, Internet of Trains (Bagian 1)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *